Wanita Jadi Lebih Hot Saat Berumur 40 Tahun

Wanita jadi lebih hot di ranjang saat berumur 40 tahunan. Menurut studi terbaru, kehidupan percintaan perempuan paling optimal di usia 40 tahun. Pengalaman di tempat tidur juga paling baik di masa ini.

Survei menunjukkan bahwa di usia 40-an, perempuan tidak terlalu memperhatikan tubuh namun, percaya diri. Lebih dari 80% perempuan mengatakan bahwa mereka lebih suka melakukan tantangan dengan pasangan dibandingkan saat mereka berusia 20 tahunan.

Bahkan, 60% di antaranya merasa lebih tegas dengan pasangannya. Menurut para ahli, ini adalah usia ketika wanita mencapai puncak kepercayaan seksual. Mereka tahu apa yang mereka inginkan di tempat tidur, dan tidak takut untuk bertanya.

Sebagai perbandingan, seperlima perempuan berusia di bawah 30 tahun mengatakan bahwa mereka seringkali berpura-pura puas di tempat tidur. Padahal, perasaan ini hanya dialami 7% perempuan di usia 40 tahun.

Para peneliti juga menemukan bahwa 68% perempuan berumur 40 tahunan menyadari sepenuhnya teknik bercinta sehingga merasakan kenikmatan lebih besar. Tidak hanya itu, 58% perempuan mengatakaan bahwa mereka merasakan seks terbaik saat menikah. Mereka melakukan lebih sering karena lebih pengalaman.

Lebih dari 90% wanita berkeras kesetiaan merupakan unsur sangat penting dalam hubungan jangka panjang.

Editor majalah Top Sante Nicola Down yang melakukan penelitian tersebut mengatakan, petualangan seksual yang sebenarnya telah dimulai ketika anak-anak mulai meninggalkan rumah. Perempuan lebih percaya diri dengan tubuh mereka, dan menikmati kehidupan seksual mereka. Studi ini dipublikasikan di Journal of Urology.(inilah)

Manfaat Menonton Film Biru

Kejenuhan dalam kehidupan rumah tangga, terutama bagi pasangan yang sudah menikah lebih dari lima tahun merupakan hal yang lumrah. Kejenuhan ini bisa saja berpengaruh pada kehidupan seks. Asal dari kejenuhan bisa saja diakibatkan oleh seks yang monoton. Kejenuhan bisa juga disebabkan oleh fantasi yang tak kesampaian, kurangnya variasi atau kurangnya gairah salah satu pasangan.

Walau tak bisa mengatasi semua masalah ini, para pakar percaya bahwa menonton film porno bisa membantu pasangan mengatasi kejenuhan dalam kehidupan seks mereka. Fungsi yang paling utama adalah sebagai sex education. Untuk menarik penontonnya, film biru biasanya menyuguhkan berbagai atraksi posisi berhubungan seksual yang cukup variatif.

Dari situlah, pasangan bisa belajar melakukan berbagai variasi posisi seksual. Bahkan, para pasangan yang memiliki pandangan terbuka dalam urusan ranjang bisa mempelajari bermacam variasi selain posisi seksual. Misalnya, bagaimana melakukan seks oral, atau cara foreplay sebelum masuk ke menu penetrasi.

Fungsi yang kedua dari menonton film biru adalah sebagai media penyalur fantasi. Menurut penelitian, lelaki atau bahkan juga sebagian perempuan banyak yang memiliki fantasi seksual dengan melakukan seks lebih dari satu orang. Menonton film biru sambil melakukan hubungan seks bisa dijadikan cara pengganti pemuas fantasi yang lebih bisa diterima.

Fungsi lain dari film biru adalah sebagai ?appetizer? atau pembangkit selera untuk berhubungan seksual. Bukan rahasia lagi, bahwa salah satu sumber kejenuhan dalam kehidupan seksual pasangan menikah, adalah masalah kejenuhan terhadap partner seks.

Menonton film biru dapat dibilang mampu mengatasi hal tersebut. Menyaksikan adegan demi adegan dalam film biru bagi kebanyakan orang, apalagi bagi kaum lelaki, akan bisa membangkitkan gairah untuk melakukan hubungan seks. Jadi, sah dan wajar saja untuk menonton film biru, demi membangkitkan kembali gairah seksual dalam sebuah hubungan cinta. (yz)

Sumber: www.arthazone.com

Pendidikan Seks Selalu Dianggap Tabu

Jakarta, Meksi banyak orangtua moderen saat ini mulai memberikan pendidikan seks pada anaknya sejak dini agar si anak paham, tapi sebagian besar orangtua masih menganggap pendidikan seks ( sex education ) adalah hal yang tabu.

Secara umum, pengertian pendidikan seks adalah upaya pengajaran, penyadaran dan pemberian informasi tentang masalah seksual. Salah satu informasi yang diberikan adalah pengetahuan tentang fungsi organ reproduksi dengan menanamkan moral, etika, komitmen agam agar tidak terjadi ‘penyalahgunaan’ organ seksual tersebut.

Dengan demikian, pendidikan seks dapat dikatakan sebagai cikal-bakal pendidikan kehidupan berkeluarga yang memiliki makna sangat penting.

Para ahli psikologi menganjurkan agar anak-anak sejak dini hendaknya mulai dikenalkan dengan pendidikan seks yang sesuai dengan tahap perkembangan kedewasaannya.

“Tapi karena tidak terbiasa dibicarakan, akhirnya pendidikan seks dianggap hal yang tabu,” ujar Sani B Hirawan, MPsi dalam acara Smart Parents Conference di Jakarta Convention Center, Jakarta, Minggu (1/8/2010).

Menurut Sani, pendidikan seks seharusnya mulai dibicarakan sejak usia dini sampai dewasa, tapi sesuai dengan perkembangan usianya.

Tujuan dari pendidikan seks juga disesuaikan dengan perkembangan usia, yaitu sebagai berikut:

1. Usia balita (1-5 tahun)
Memperkenalkan organ seks yang dimiliki seperti menjelaskan anggota tubuh lainnya, termasuk menjelaskan fungsi serta cara melindunginya.

2. Usia sekolah (6-10 tahun)
Memahami perbedaan jenis kelamin (laki-laki dan perempuan), menginformasikan asal-usul manusia, membersihkan alat genital dengan benar agar terhindar dari kuman dan penyakit.

3. Usia menjelang remaja
Menerangkan masa pubertas dan karakteristiknya, serta menerima perubahan dari bentuk tubuhnya.

4. Usia remaja
Memberi penjelasan mengenai perilaku seks yang merugikan (seperti seks bebas), menanamkan moral dan prinsip ‘say no’ untuk seks pra nikah serta membangun penerimaan terhadap diri sendiri.

5. Usia pranikah
Pembekalan pada pasangan yang ingin menikah tentang hubungan seks yang sehat dan tepat.

6. Usia setelah menikah
Memelihara pernikahan melalui hubungan seks yang berkualitas dan berguna untuk melepaskan ketegangan dan stres.

Sayangnya, banyak orangtua yang belum memahami manfaat dan tujuan dari pendidikan seks. Ada yang menganggap bahwa pendidikan seks tidak diperlukan, sebab akan memancing anak ke arah negatif.

Jelas hal ini tidak benar. Sesungguhnya dialog seks perlu dibangun dalam keluarga. Namun diakui, terkadang orangtua sulit untuk terbuka dan memulai dialog mengenai materi seks pada anak, sehingga akhirnya pendidikan seks dianggap tabu.

Sumber: www.detikhealth.com